Evolusi Bumi

Terbentuknya Benua-benua Sekitar 4,5 milyar tahun yang lalu bumi kita ini terbentuk sebagai bola pijar yang berisi elemen-elemen berat dan ringan yang tidak dapat diproduksi oleh matahari di dalam reaksi fusi nuklirnya. Keberadaannya mereka ini menunjukkan bahwa mereka berasal dari hasil ledakan sebuah supernova yang relatif dekat dengan matahari, sehingga materi yang dimaksud kemudian terpengaruh oleh gaya gravitasi matahari dan tersapu ikut dengannya serta lambat laun memadat karena gravitasinya sendiri. Tampak di sini bintang-bintang termasuk matahari ditundukkan oleh Allah SWT untuk menyiapkan munculnya manusia yang tersusun dari elemen-elemen kimiawi dan memerlukan tanah pijakan yang padat. Kita baca dalam ayat 12 surat an-Nahl : Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami(nya) [16:12] Pada suhu sekitar 6.000°C itu elemen-elemen berat terutama besi mengumpul sebagai inti bumi, yang di bagian dalam padat karena tekanan setempat sangat tinggi, sedangkan yang di luarnya masih lunak. Di luar inti berkumpul elemen yang lebih ringan yaitu magnesium silikon yang masih cair serta aluminium silikon. Cairan batu yang mulai mendingin kulitnya ini membeku, dan membentuk kerak bumi sekitar 4 milyar tahun yang lalu dengan ketebalan sekitar 60 sampai 80 kilometer. Penempatan batuan granit yang lebih ringan adalah di atas, sedangkan batuan balatik yang lebih berat berada di bawah. Inilah kerak bumi yang tertua umurnya. Ketika suhu bumi lebih dingin lagi uap air yang berada di dalam atmosfer mulai mengembun dan hujan turun terus menerus sehingga cekungan-cekungan di permukaan bumi terisi air menjadi danau, lautan dan samudera. Tersedianya air ini memungkinkan adanya makhluq hidup yang kita kenal; andaikata massa bumi hanya separoh yang ada sekarang, maka ia tidak akan mampu menahan uap air dan uap ini akan lepas dari bumi. Contoh dari benda langit yang tidak mempunyai atmosfer dan uap air adalah bulan. Sejauh pemantauan kembali para ilmuwan, kini diketahui bahwa sekitar 300 juta tahun yang lalu yang muncul di permukaan air daratan yang sangat luas, sebuah super kontinen yang oleh para ilmuwan dinamakan Pangea, yang berada di tengah samudera yang sangat luas dan disebut Panthalasea. Sekitar 150 juta tahun yang lalu super kontinen ini membelah menjadi “Gondwana” yang meliputi Antartika, Australia, Afrika serta Amerika Selatan, dan Laurasia yang meliputi Asia, Eropa serta Amerika Utara. Dan kira-kira 50 juta tahun kemudian mereka keduanya terpecah lagi menjadi kontinen-kontinen yang tersebut di atas. Di dalam proses pemisahan ini, kontinen-kontinenyang bersangkutan bergerak menggeser ke posisinya yang sekarang. Di dalam al-Qur‘an kita baca ayat 31 surah ar-Ra’d : Dan sekiranya ada suatu bacaan (kitab suci) yang dengan bacaan itu gunung-gunung dapat digoncangkan atau bumi jadi terbelah atau oleh karenanya orang-orang yang sudah mati dapat berbicara, (tentu Al Qur‘an itulah dia). Sebenarnya segala itu adalah kepunyaan Allah.. [13:31]

Amerika Selatan menggeser ke Barat dan bergabung dengan Amerika Utara yang juga bergeser ke Barat setelah memisahkan diri dari Eropa. India bergerak ke Utara sehingga menabrak Asia dan mengangkat pegunungan Himalaya, serta menekan Cina begitu kuat sehingga bagian kontinen itu ter“pelotot” ke arah Timur, sedangkan kontinen Australia yang semula menempel pada Antartika di dalam perjalanannya ke Utara menabrak Asia serta memunculkan kepulauan Nusantara dari dasar lautan; lempeng dasar Samudera Hindia serta lempeng benua Australia itu membentuk busur gunung api sepanjang 3.800 km. Dengan demikian, maka jelaslah bahwa wajah bumi dengan kontinen dan samuderanya selalu berubah sesuai dengan tingkat evolusinya. Jazirah Arab misalnya diketahui memisahkan diri dari Afrika sejak 5 juta tahun yang lalu. Dari sejarah evolusi bumi dan terbentuknya kontinen-kontinen ini nyata bahwa gunung-gunung yang ada di pulau kontinen tidak diam saja, tetapi bergerak dan berpindah-pindah. Kita ingat saja ayat 88 surah an-Naml : Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan.. [27:88] Pergeseran lempeng kerak bumi ini meskipun lambat, sekitar 5 sampai 12 sentimeter per tahun, dalam kurun waktu sejuta tahun akan memindahkan sebuah benua sejauh 50 sampai 120 kilometer. Mengapa lempeng-lempeng kerak bumi itu tidak berkeliaran semaunya sendiri dapat ditemukan jawabannya oleh para ahli geologi yang menyatakan bahwa gunung-gunung yang menjulang tinggi memiliki “kaki” di dalam astenosfer yang membuat kontinen-kontinen kedudukannya mantap. Kita temukan di dalam al-Qur‘an ayat 6 dan 7 surah an-Naba‘ pernyataan : {6} Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan?, {7} dan gunung-gunung sebagai pasak? [78:6-7]

Mekanisme Evolusi Bumi Bagaimanakah pergerakan kontinen-kontinen itu dapat muncul? Kita ingat saja lapisan mantel yang merupakan cairan batuan pijar yang pekat, yang ada letusan gunung berapi menyembur keluar. Seperti layaknya sebuah zat cair yang amat panas, dalam alpisan bagian mantel luar yang disebut astenosfer terdapat gerakan konveksi yang kontinyu yang di tempat-tempat tertentu membuat kerak bumi merekah sehingga batuan cair itu keluar dari kantong magma ke permukaan. Ujung lidah ini membelah ke kiri dan ke kanan, dan bagian yang mendesak batuan sekelilingnya kemudian membeku, sehingga dapat dikatakan bahwa lidah ini mendorong kerak bumi yang merupakan dasar samudera ke samping; lempeng-lempeng di kiri dan kanan rekahan itu mendapatkan tambahan material dan bertambah luas sambil menjauhi rekahan tersebut. Dari sinilah bumi dibentangkan, yang prosesnya dipertanyakan di dalam ayat 20 surah al-Ghasyiyyah : Dan bumi bagaimana ia dihamparkan? [88:20] Di daerah ini tidak ada tekanan antar lempeng karena lempeng-lempeng yang ada di tempat itu bergerak saling menjauhi; inilah daerah divergensi seperti yang ada di tengah samudera Atlantik. Marilah kita ingat ayat 3 surah ar-Ra‘d : Dan Dia-lah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya.. [13:3] Apabila lidah magma yang menyusup di kerak bumi tak bertemu dengan dasar samudera, tetapimenemukan kontinen, maka ia akan membentuk dapur magma yang menekan ke atas dan menymebulkan bagian kontinen itu sehingga batuannya retak-retak dan aktivitas vulkanismuncul secara luas sehingga akhirnya daerah itu menjadi rontok. Lambat laun kontinen yang bersangkutan mengalami proses pembelahan seperti terpisahnya jazirah Arab dan Afrika yang menabrak Iran sehingga menimbulkan gunung-gunung sepanjang pantainya atau mengalami terbentuknya lembah-lembah seperti yang terjadi di Afrika Timur. Di daerah ini pun terdapat proses divergensi.

Sekarang marilah kita memeriksa daerah konvergensi di mana lempeng-lempeng bertemu dan saling menabrak. Apabila Lempeng Pasifik tumbuh dari rekahan kerak bumi di samudera Pasifik terdorong ke Barat dan menabrak Indonesia Bagian Timur dan terangkat membentuk pegunungan Irian Jaya yang kaya mineral terutama tembaga, maka Lempeng Indo-Australia menabrak Indonesia dari Selatan dan meyusup di bawahnya, sehingga terjadi palung laut dalam di sebelah Barat Sumatera dan tergesernya pulau ini, serta palung di sebelah Selatan Pulau Jawa dan menimbulkan tekanan padanya, daerah ini merupakan zona konvergensi. Lempeng yang membentuk palung ini tetap terdorong terus dan karena gesekan dengan lempeng yang lain, sering menimbulkan gempa tektonik yang berpusat pada kedalaman 50 sampai 125 km; lebih jauh ia masuk ke dalam cairan batuan yand ada sampai 700 km di dalam astenosfer ujung lempeng itu akan meleleh termakan lingkungannya. Ingat saja ayat 41 surah ar-Ra‘d : Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami mendatangi daerah-daerah (orang-orang kafir), lalu Kami kurangi daerah-daerah itu (sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya? [13:41] Pelapukan karena akibat menerpanya cahaya matahari, dan erosi oleh pasir yang dibawa oleh aliran angin dan air, serta korosi oleh zat-zat kimiawi yang larut dalam sungai menjadikan gunung-gunung kehilangan sebagian dari batuannya dan lahan sebagian dari tanahnya, sementara sungai yang membawa material itu mengendapkannya di danau, dan di lautan sekitar mulut sungai itu. Proses sedimentasi atau pengendapan ini berlangsung jutaan tahun sehingga material tersebut terkompaktifikasi sebagai akibat dari tindihan air dan sedimen di atasnya dan berubah menjadi batu. Karena pada musim tertentu banyak material terangkut air dan terendapkan, sedangkan pada musim yang lain materi itu hanya sedikit saja, maka terbentuklah lapisan-lapisan yang menyusun kulit bumi yang berbeda-beda umurnya, bergantung pada waktu sejak kapan mereka berada di situ.\r\nUmur batuan ini dapat diukur dari perbandingan antara kuantitas zat radioaktif dan hasil peluruhannya yang ikut terperangkap dalam sedimen. Umur lapisan-lapisan yang berasal dari muntahan magma serta yang keluar dari gunung berapi pun dapat diketahui berkat kehadiran zat radioaktif di tempat itu. Dalam batuan inilah dan dalam batuan lava yang telah dingin tersimpan apa saja yang terdeposit di berbagai tempat, baik mineral maupun fosil makhluq hidup yang sudah lama tiada. Dari penelitian umur lapisan-lapisan itu beserta fosil-fosil tumbuhan dan binatang para ilmuwan dapat mengungkapkan sejarah kehidupan di bumi ini. Kekuatan-kekuatan geologis dari perut bumi kadangkala mengangkat apa yang semula di dalam air muncul di atas permukaan sehingga sedimen kulit kerang dan kerangka makhluq yang hidup di laut yang telah membatu keluar sebagai pegunungan kapur; atau kadangkala menenggelamkan sebagian dari kepulauan atau bagian kontinen yang ada. Jika kita urutkan lapisan-lapisan geologis bumi menurut umurnya, maka akan kita dapatkan deretan sebagai berikut : 0 juta tahun (cenozoik) Kuaterner     Tersier 100 juta (mesozoik) Kretasius     Jurasik 200 juta   Triasik   (paleozoik) Permian 300 juta   Karboniferus     Devonian 400 juta   Silurian     Ordovisian 500 juta   Kambrian Batuan yang lebih tua lagi 600 juta tahun atau lebih dikelompokkan sebagai pra-Kambrian. Iklim Yang Membina Kehidupan Kehidupan di bumi kita ini tidak akan berkembang sebagaimana yang telah kita temukan dewasa ini, andaikan bumi iklimnya sangat panas yang tinggi suhunya ratusan derajat. Tidak ada makhluq yang ada sekarang ini di permukaan yang tahan terhadap suhu yang begitu tinggi seperti yang kita dapatkan di planet Venus. Perkembangan juga tak akan terjadi seperti sekarang andaikan perputaran bumi sedemikian rupa sehingga tidak terjadi pergantian siang dan malam; artinya perputarannya selalu menghadapkan permukaan yang sama ke arah matahari. Sebab di bagian yang selalu terkena sinar matahari suhunya akan naik, sedangkan di bagian yang sebaliknya suhu akan turun dan tak akan ada tanaman yang tumbuh di sana. Tanpa adanya pergantian siang dan malam tak akan ada kehidupan. Setelah berkembang biaknya berbagai jenis tetumbuhan dan hewan yang tersebar di berbagai benua, terbentuklah ekosistem yang serasi. Tanaman dan binatang mengambil oksigen dari udara bagi pernapasannya dan melepaskan karbondioksida ke atmosfer, tetapi tumbuhan mengambil juga karbon dioksida dari udara, untuk diubah menjadi bahan makanan serta bahan pertumbuhannya dengan klorofilnya dan bantuan energi cahaya, dan melepaskan kembali oksigen bebas ke atmosfer. Karbon dioksida yang berlebih di atmosfir akan diserap oleh samudera dan dikonsumsi oleh plankton; selanjutnya makhluq bersel tunggal ini menjadi sumber makanan ikan dan mereka sebaliknya menjadi sumber makanan manusia. Sebagian hewan memangsa binatang lain, tetapi ada pula yang memakan tanaman saja; serangga berperan pada penyerbuan bunga-bunga sehingga tanaman dapat berbuah dan berkembang biak, tetapi ada pula serangga yang menjadi pembersih sampah. Begitulah secara singkat kehidupan dalam ekosistem, dalam proses yang tak terbilang banyaknya dan tak ada habisnya. Bumi mempunyai iklim yang berbeda-beda pada lokasi yang berlainan bergantung pada letaknya di bumi. Di sekitar ekuator atau khatulistiwa iklim yang ada bersifat tropis; dan yang kebetulan berada di antara dua benua, dan mendapat pengaruh dari samudera yang luas, memiliki musim penghujan dan kemarau seperti Indonesia. Apabila matahari bersinar di bagian Selatan Khatulistiwa benua Australia mendapatkan banyak panas, sedangkan benua Asia tidak. Sebagai akibatnya, maka udara naik ke atas di Australia, dan sebaliknya udara turun di Asia, sehingga udara bergerak, angin meniup, dari benua Asia ke benua Australia. Karena ia melewati Samudera Hindia, maka banyak uap air terangkut dan jatuh sebagai hujan; kita dapatkan musim penghujan. Sebaliknya jika matahari bersinar di bagian Utara Khatulistiwa, kita bertemu dengan musim kemarau karena angin yang datang dari Australia menuju Asia adalah angin yang kering. Lebih jauh letak daerah itu dari ekuator ia menikmati iklim sub tropis dengan angin Baratnya; sedangkan di lokasi yang lebih jauh lagi dari khatulistiwa terdapat empat buah musim yaitu musim dingin, musim semi, musimpanas serta musim gugur. Di bagian bumi di sebelah Utara 40° lintang Utara serta di sebelah Selatan 40° lintang Selatan bertiup angin Barat yang terus menerus. Keanekaragaman iklim ini memungkinkan munculnya keanekaragaman hayati, yang sudah tentu merupakan konsekuensi dari evolusi kehidupan. Untuk memberikan iklim yang membina adanya kehidupan itu Allah SWT telah menempatkan bumi pada jarak sekitar 150 juta kilometer dari matahari, memberikan pada bumi sumbu yang miring dengan sudut kira-kira 66,5° terhadap bidang orbit perputaran bumi mengelilingi matahari, serta memberikan rotasi pada bumi dengan waktu putar sekitar 24 jam dalam sehari semalam. Mengenai peran atmosfer sebagai pelindung makhluq yang ada dan hidup di bumi ini kita menyebutnya sebagai perisai terhadap hunjaman sinar kosmos yang energinya sangat tinggi; kecuali itu ia juga pelindung terhadap masuknya sinar ultraviolet dari cahaya matahari. Selanjutnya atmosfer juga merupakan sumber oksigen, dan malahan milyaran tahun jauh sebelum itu ia menjadi sumber gas yang mengandung unsur-unsur kimiawi yang diperlukan bagi terbentuknya biomolekul. Sedangkan peran samudera yang dapat kita kemukakan di sini ialah sebagai penyimpan gas karbon dioksida, sumber air yang diuapkan panas matahari untuk dijatuhkan kemudian sebagai hujan, sumber makanan manusia yang tiada habisnya, dan bahkan sebagai kancah pertemuan bagi terjadinya reaksi-reaksi kimiawi dalam pembentukan biomolekul. Kecuali itu rekahan-rekahan magma di dasar samudera memungkinkan timbulnya upwelling atau gerak air ke permukaan dengan membawa larutan mineral yang penting bagi makanan plankton, dan adanya arus samudera yang sangat berpengaruh terhadap iklim di bumi. Namun kita mengetahui juga bahwa bergesernya rekahan-rekahan dan aktivitasnya dapat mengubah pola iklim yang sudah ada sebelumnya di suatu daerah dan mengacaukan musim penghujan seperti munculnya gejala El-Nino akhir-akhir ini. Perubahan cuaca juga dapat terjadi karena meningkatnya kadar gas CO2 di dalam atmosfer; ia menimbulkan efek rumah kaca yang membuat suhu bumi naik, es di kutub dan salju abadi di puncak gunung dan pegunungan meleleh serta menaikkan permukaan air laut. Sekalipun gejala ini tak merusak kehidupan di bumi, namun gangguan yang dapat ditimbulkannya cukup serius, karena kota-kota di tepi pantai akan terendam andaikan permukaan air laut naik 5 meter saja misalnya. Gas yang berkeliaran di dalam atmosfer yang jelas merusak kehidupan ialah SOx dan NOx yang setelah larut dalam tetes-tetes air, yang akan jatuh menjadi hujan asam, dapat memusnahkan hutan-hutan dan tanaman pada umumnya, serta mematikan ikan-ikan di dalam telaga karena meningkatnya keasaman air danau tersebut. Bencana Alam Mengingat mekanisme pembentukan kontinen-kontinen serta proses yang menentukan iklim di berbagai bagian bumi, kita dapat memeprkirakan bencana-bencana apa yang dapat timbul sebagai akibat dari mekanisme dan proses yang tersebut di atas. Ada dua jenis bencana utama yang dapat kita sebutkan di sini yaitu pertama yang berasal dari iklim, dan yang kedua asalnya dari gerak lempeng kulit bumi. Iklim di suatu daerah dapat menimbulkan kekeringan apabila mekanisme terganggu, sehingga daerah yang tadinya biasa mendapatkan air hujan selama bulan-bulan tertentu menderita kekeringan yang merusak tanaman, karena menggesernya daerah tiupan angin yang membawa hujan itu misalnya di Ethiopia dan daerah Afrika lainnya. Iklim juga dapat menimbulkan bencana angin ribut, badai atau taufan yang biasanya berawal dari putaran kecil di daerah sub tropik dan kemudian bergerak ke daerah yang lebih dingin, seperti tifon yang secara rutin melanda pantai-pantai Cina dan Jepang, atau tornado dan sebangsanya yang menyapu Amerika Serikat dengan kelajuan 200 km per jam. Kita temukan dalam ayat 19 dan 20 surah al-Qomar : {19} Sesungguhnya Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang sangat kencang pada hari nahas yang terus menerus, {20} yang menggelimpangkan manusia seakan-akan mereka pokok kurma yang tumbang. [54:19-20] Tetapi iklim pun dapat menjatuhkan hujan yangluar biasa lebatnya di daerah tertentu sehingga timbul banjir dan tanah longsor yang merusak infra struktur serta usaha pertanian. Kita baca dalam kitab suci al-Qur‘an pada ayat 11 dan 12 surah al-Qomar : {11} Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah. {12} Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air maka bertemulah air-air itu untuk satu urusan yang sungguh telah ditetapkan. [54:11-12] Gerak lempeng kerak bumi dapat menyebabkan gempa dan bahkan tsunami, serta munculnya gunung-gunung berapi yang mengeluarkan asap panas, lava dan letusan-letusan yang sangat berbahaya. Di Indonesia terdapat sekitar 400 gunung api dan yang masih bekerja aktif ada 129 buah; 70 di antaranya dikategorikan sebagai gunung api yang berbahaya. Banyak korban yang jatuh sebagai akibat dari letusan dari gunung-gunung itu. Kita baca dalam ayat 73 dan 74 surah al-Hijr : {73} Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit. {74} Maka Kami jadikan bahagian atas kota itu terbalik ke bawah dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras. [15:73-74] Sebagaimana diketahui 92.00 jiwa telah melayang sebagai akibat letusan gunung Tambora dalam tahun 1815, 36.000 orang menjadi korban letusan gunung Krakatau pada tahun 1883, 5.000 jiwa dimusnahkan gunung Kelud pada tahun 1919, 1.000 jiwa oleh gunung Merapi (Jawa Tengah) dalam tahun 1930, dan 1.300 jiwa oleh gunung Agung. Di samping munculnya gunung api, gerak lempeng bumi juga mengakibatkan terjadinya gempa-gempa bumi. Menurut para ahli selama 3.000 tahun terakhir ini gempa-gempa bumi telah menewaskan 6 juta jiwa. Dalam catatan yang ada, besar korban yang jatuh di dalam gempa yang kekuatannya di atas 7,5 skala Richter, yang diungkapkan oleh ahli tektonika-lempeng Indonesia Prof. Dr. J.A. Katili dalam satu ceramahnya adalah : 32.000 di Kota Lisboa tahun 1775 75.000 Tokyo-Yokohama tahun 1923 80.000 di Peru tahun 1970 30.000 di Nikaragua tahun 1972 23.000 di Guatemala tahun 1974 25.000 di Mexico City tahun 1985 600-700.000 di daerah Beijing-Tanshan Energi yang menyertai gempa berskala Richter 8,0 besarnya sekitar tenaga ribuan bom atom yang jatuh di Hiroshima. Gempa semacam itu terjadi di Tokyo (M = 8,2), Chili (M = 8,3) dan di Alaska (M = 8,4). Kita baca dalam ayat 37 surah al-’Ankabut : Maka mereka mendustakan Syuaib, lalu mereka ditimpa gempa yang dahsyat, dan jadilah mereka mayit-mayit yang bergelimpangan di tempat-tempat tinggal mereka. [29:37]

Rangkuman Intisari Dalam tulisan ini kita telah membicarakan tentang terbentuknya kerak bumi, ketika planet ini mendingin dalam suhu jagad-raya yang berada jauh di bawah titik beku air, sehingga kulitnya mengeras menjadi batu dan kemudian hujan turun tiada hentinya selama ribuan tahun yang mengisi cekungan-cekungannya menjadi samudera dan lautan. Aliran-aliran magma di perut bumi yang kasih pijar itu menyebabkan terkoyaknya kontinen-kontinen dan dasar samudera, sehingga setelah 4 milyar tahun terjadilah rupa bumi seperti yang kita temukan sekarang. Adanya air di bumi kita ini, adanya perputaran bumi pada sumbunya yang tepat, serta adanya uap air, gas amoniak dan metana serta karbon dioksida, memungkinkan munculnya makhluq hidup. Sedangkan kemiringan sumbu putar bumi pada bidang orbitnya merupakan kondisi yang mendorong adanya keanekaragaman hayati; sebab kemiringan itu, memungkinkan timbulnya empat musim di daerah-daerah yang beriklim dingin, sehingga ada musim panas dan musim dingin padanya. Pengaruh dari cuaca pada batuan-batuan di bumi dalam bentuk pelapukan dan erosi, serta transportasi dan sedimentasi menambah macam-macam lapisan kerak bumi, di samping lapisan-lapisan yang dimunculkan oleh membekunya magma, yang secara berkala keluar dari perut bumi dan meratakan diri di permukaannya. Mineral-mineral yang terbawa dari dalam dan kemudian lapuk batuannya di permukaan, membuat lahan menjadi subur untuk pertanian. Namun pencemaran dalam bentuk gas-gas beracun, dapat menimbulkan hujan asam yang dapat merusak hutan atau lahan pertanian. Seringkali ulah manusia, menyebabkan bencana seperti penggundulan hutan di pegunungan yang dapat menimbulkan banjir bandang yang mengangkut tanah yang subur masuk ke dalam sungai dan terus ke laut. Sudah barang tentu pendangkalan sungai-sungai dapat menyebabkan banjir di musim penghujan, yang merupakan bencana tahunan di samping bencana-bencana lain yang sifatnya alamiah, sesuai dengan dinamika yang melanda bumi kita dalam proses “kehidupannya”.

diambil dari buku Al-Qur‘an dan Ilmu Pengetahuan Kealaman oleh Prof. Achmad Baiquni, Msc. PhD

About these ads

6 Balasan ke Evolusi Bumi

  1. heru mengatakan:

    mksh ye…………

    gw terbantu bget ma blogmu

  2. nizar mengatakan:

    sama-sama Gan..

  3. andri mengatakan:

    lumayan dapet pengetahuan…..makasih ya

  4. kie mengatakan:

    maksih infony

  5. Nur istiqamah saleh mengatakan:

    wah aku suka bnget nih teorinya, soalnya jg dikaji dr Al-Qur’an. hem…..makasih buat ilmunya, insyALLAH bisa diamalkan.

  6. mudahingat mengatakan:

    wah info nya membantu ku buat tugas,,,lengkap dengan al quran nya……..makasih ya

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: